MBAH SADIMAN PAHLAWAN PENGHIJAUAN
"Usia tak menjadi batasan untuk berkarya, asal kau punya niat & tekad maka lakukanlah sesuai kemampuan, perkara hasil , nanti...!"
"Mbah
Sadiman, orang sederhana, berfikir sederhana, bekerja keras, tekun dan telaten
hingga akhirnya prosesnya menghasilkan karya besar sumber mata air kehidupan"
Kisah
'Kegendengan' Mbah Sadiman asal Wonogiri, selama 20 tahun menanam ribuan pohon
hingga terkenal di mancanegara. Ia tak lagi muda, umurnya sudah menginjak 68
tahun, raganya pun tidak tegak dan gagah, keriput sudah mulai menghiasi
wajahnya.Tetapi, yang membuat kita kaum muda malu mungkin, adalah kegigihannya
naik-turun bukit menelusuri daerah di lereng gunung sembari membawa bibit
pohon.
Namanya Mbah Sadiman, ia akan
menanam bibit-bibit pohon itu.
Kisahnya
sempat diangkat media asing Zinc asal London, Inggris, dalam sebuah postingan
video di Facebook berjudul "This Indonesian man single-handedly saved his
village from starvation".Mbah Sadiman tinggal di Dusun Dali, Desa Geneng,
Kecamatan Bulukerto Kabupaten Wonogiri, sekitar 100 KM dari Kota Solo.
Selama 20
tahun lebih sejak tahun 1996 Mbah Sadiman telah memulai dedikasinya untuk
keberlangsungan hidup warga desanya dengan menanam pohon.Setidaknya lahan
seluas 250 acre di Bukit Gendol dan Bukit Ampyang lereng Gunung Lawu telah ia
tanami lebih dari 11 ribu.
Ini bermula
dari keresahannya akibat penebangan dan penjerahan hutan yang dilakukan warga
dan berimbas pada kehidupan warganya sendiri.Kebakaran hebat pernah melanda,
kekeringan saat musim kemarau, banjir saat musim hujan, petani tidak cukup
mendapat air untuk tanamannya, dan warga kesulitan mendapatkan air.
Lelaki tua itu
melakukan semuanya sendiri, tanpa bayaran dan tidak mengharapkan imbalan.Pohon
yang ia tanam adalah pohon beringin, ini karena beringin memeiliki kelebihan
sebagai tanaman pencegah erosi.Ia memebeli bibit, memberi pupuk, menyulami
semua dari kantongnya sendiri. Bahkan ia mengorbankan hanya memakai baju bekas
di keseharian daripada membelinya.Mbah Sadiman usaha penyemaian bibit jati dan
cengkeh di pekarangan rumahnya, ia melakukan itu karena akan menukarkan 2 bibit
cengkeh dengan 1 bibit beringin kepada warga untuk ditanam.
"Orang-orang
menyebut saya edan, gendeng, karena menukar bibit cengkeh dengan bibit beringin
yang tidak menghasilkan keuntungan berupa materi" ujarnya dalam bahasa
jawa di postingan tersebut.Tapi memang bukan itu yang Mbah Sadiman cari, ia
menanam beringin karena dapat menyediakan sumber air yang dapat dimanfaatkan
oleh seluruh warga desa.
Kini, warga
desa merasakan hasil perjuangan Mbah Sadiman, petani tidak kesulitan air, Dusun
Dali juga tidak mengalami kesulitan air lagi di saat daerah lain mengalami
kekeringan saat musim kemarau."Seorang Mbah Sadiman bagi kami adalah
pahlawan, orang yang sangat kita butuhkan, karena sudah tua di berani terjun ke
hutan untuk melakukan reboisasi" kata seorang warga.
Sadiman masih
berencana menaman 20 ribu lebih pohon lagi untuk juga dapat membantu desa lain.
"Pokoknya sampai kemampuan saya, kalau saya masih mampu tanam, ya
tanam" itulah keinginan sederhana Mbah Sadiman namun aka sangat berarti
besar bagi warga sekitar.
#CatatanYangTerserak
